Tampilkan postingan dengan label pacaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pacaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Batasan Dalam Berpacaran

Bagi yang mau berpacaran ato sedang berpacaran hendaknya membaca tulisan ini :-)


BATASAN DALAM BERPACARAN
Ini sepertinya pertanyaan wajib dalam session LSD (Love Sex Dating). Gue dah ikut sesi LSD dari sejak kelas 2 SMP. Itung-itung dah lebih dari 5-6 kali gue ikutan sesi LSD. En pastiii deeeh ada pertanyaan ini!! Mulai dari gue di Jakarta, Surabaya, balik Jakarta lagi, sampe di China pun, ini pertanyaan wajib keluar.

Ada banyak jawaban yang diberikan. Tapi sejujurnya ngga ada satu jawaban pun yang memuaskan gue en memuaskan para penanya. :p Kenapa? Karena buktinya tiap tahun pertanyaan itu keluar lagi dan lagi dan lagi!!

Menurut gue, pertanyaan itu salah. Karena pertanyaannya salah ngga heran kalo jawabannya tidak menyelesaikan masalah.

Kenapa menurut gue pertanyaan itu salah?!

Tata bahasa dari pertanyaan itu bener sih (wekekeke. Dasar guru bahasa :p), tapi MOTIVASI di balik pertanyaan itu yang salah. Kenapa gue ampe berani bilang itu salah?

Jawab dengan jujur guys, kenapa pertanyaan itu selalu muncul di benak kita? Karena kita ... pengen bermain-main sedekat mungkin dengan jurang dosa, Kita pengen bermain-main dengan dosa tapi kita MENOLAK untuk dikatakan berdosa (padahal emank kita dosa).

Contohnya. Kalo ada pembicara yang bilang, "Oh batasan dalam pacaran ngga boleh sampe intercourse atau berhubungan seks!!"

Kita bilang, "Okay. Kita ngga sampe intercourse. Cuman petting aja. Ngga sampe masuk kok. Ngga dosa kan?!"

Lalu batasannya diperketat, "Petting juga ngga boleh. Ngga boleh sampe buka baju!!"

Kita bilan lagi, "Okay, kita ngga buka baju. Tangan aja yang masuk. Baju ngga kebuka. Ngga dosa donks!"

*nah loh ... mau bilang apa guys?!?! :p*

Kalo dibilang, "Ngga boleh cium bibir."

Kita bilang, "Okay, ngga cium bibir. Cuman cium tangan, cium leher, cium kuping, cium mata, dan cium-cium yang laen. Yang penting ngga cium bibir kan?! Gue ngga cium bibir. Ngga dosa donks! Boleh donks ...."


Guys, kata temen gue, maling itu biasanya lebih pinter daripada polisi. Kita anak muda, punya segudang alasan buat ‘mengakali’ peraturan-peraturan yang ada. Akui aja, kita tuh paling pinter buat cari-cari celah untuk tetap melakuka dosa, tapi ngga keliatan dosa. Dulu tuh ye, gue paling pinter cari alasan buat hal-hal begini.

Waktu gue pacaran ama mantan gue, gue tetapin peraturan. Kalo duduk jaraknya mesti 2 tegel. Nah loh. Tapi tetep aje, gue bisa berdosa dalam batasan-batasan gue. Gue sih ngga ngelanggar tapi akal kadal gue nemuin celah-celah dari batasan itu en gue pakelah celah-celah itu buat memuaskan hawa nafsu gue.

So guys, menurut gue, pertanyaan itu salah karena sebagian besar motivasi dari penanya (baca : kita) adalah mencari kesempatan untuk berbuat dosa. Kalo kita ngomongin batasan, dibikin batasan seketat apapunnnn kita tetep bisa mencuri-curi kesempatan kok. Kayak gue dulu. >.<

“biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar. Engkau yang menguji hati dan batin orang ya Allah yang adil” (Amsal 7 : 9)

Guys, Tuhan tuh ngga liat peraturan kita. Tuhan liat hati kita … Tuhan menguji hati bukan menguji peraturan.
“Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 21 : 2)
Kita mungkin mengira banyaknya peraturan kita, ketatnya batasan kita itu yang membuat kita kudus di hadapan Tuhan. Nope. Yang membuat kita kudus di hadapan-Nya itu cuman darah anak-Nya yang kudus dan menyucikan kita. Yang bisa menjaga kita tetap kudus itu cuman Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Karena itu semestinya pertanyaan kita bukan, “Apa batasannya?”, tapi “Kalo gue begini apakah Babe senang?”, “Kalo gue lakukan ini/ kalo gue membiarkan pacar gue melakukan ini, apakah Yesus yang sudah mati buat kita tersenyum?” Orientasi kita bukan lagi peraturan, batasan, boleh tidak boleh, tapi apakah ini menyenangkan hati Tuhan?

Mungkin yang lebih konkrit, sebelon kita melakukan sesuatu dengan pacar kita, coba bayangkan dulu. Kalo di ruangan itu ada ortu kalian dan ada camer alias calon mertua kalian, berani ngga kalian lakukan itu?!?! Kalo tidak, berarti jangan dilakukan!! :p

Loh Grace, ntar jaddii jaimmm dan kaku banget donkss. Guys, gue termasuk org yg percaya bahwa keintiman fisik itu seharusnya seimbang dengan tingkat komitmen. Kita mulai cium jidat dan cium pipi setelah kita tunangan. Hugging, erh sangat jarang. Gals (ce-ce perhatikan yah), buat kita, hugging atau memeluk itu suatu tindakan yang tidak erotis. Betul tidak? :p Kita biasa peluk sana sini. Tapi tanpa kita sadari, bagi pacar kita, itu bisa jadi sangat erotis. Kenapa? Coz ketika kita memeluk dia, bagian dada kita nempelll … So be careful with this. Apa yang buat kita ngga papa belon tentu okay buat pacar kita.

Setelah menikah guys, loe bisa lakukan sepuasnya deh. You have a lifetime to kiss, to hugz and to do whatever you want to do with your husband/wife! Malah Tuhan akan MEMERINTAHKAN loe utk berhubungan seks setelah loe menikah!! : p So, waktu pacaran yang cuman beberapa bulan-tahun itu ngga ada apa-apanya dibanding dengan berkat yang Tuhan mau kasih setelah kalian menikah.

So guys, save the best for your marriage. Jangan kompromi.. don’t … Please don’t … Jangan main-main dengan dosa. Jangan bertanya, batasannya apa? Tapi tanyalah, kalo gue begini, ini menyenangkan Tuhan atau tidak? Akankah gue berani melakukan ini kalo Tuhan Yesus, Allah Bapa dan seluruh surga melihatnya? Akankah gue berani melakukan ini kalo ortunya en ortu gue ada di sini?

Kalo uda resmi gini kan enak mau ngrangkul, nyium, ngapain aja bebas hihihi




Copyright by Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta

Rabu, 10 Agustus 2011

Pentingkah Pacaran Sewaktu Kuliah?

Pentingkah pacaran sewaktu kuliah? Hmm, pasti ada yang bilang "penting dong", "penting lah", "penting banget", apalagi yang kuliahnya di luar kota, jawabnya "kan kita butuh kasih sayang semenjak jauh dari rumah", "mumpung kos bisa bebas pacarannya".

Saat saya belum kuliah, saya mikir wah pasti nanti kuliah saya sibuk kuliahnya karena saya ambil 2 jurusan, eh ternyata pas dijalanin halah ternyata banyak waktu kosong jg... dan setelah menjalani kuliah selama beberapa bulan akhirnya mikir juga wah enak juga kalo punya pacar (awal-awal kuliah kan masih pada ndeso klo yang dateng dari daerah, ciri-cirinya: tampang masih culun, sok ngganteng, suka pergi-pergi ke mall, suka mimisan ngliat zewek... ngiler lah minimal... wkekekeke...).

Oke, kenikmatan kuliah dibahasnya laen kali aja ya sambil nanti saya cerita pengalaman kuliah saya yang cukup komplit... :)

Nah bagi Pria/Wanita yang baru kuliah ato lagi kuliah dan sedang ato akan mencari pasangan(saya lebih suka nyebut pasangan daripada nyari zowok, nyari zewek karena kesannya klo pasangan itu kita lebih serius sama dia), saya kasih enak dan ngga enaknya ya.

Enaknya kalo punya pasangan:
  1. Ada yang merhati'in
  2. Ada yang bisa diajak sayang-sayangan (halah, apa ini bahasanya?! :-D )
  3. Harga diri naek karena dikira laku (ngga sia-sia dateng jauh-jauh dari daerah, apalagi dapet yang cakep, wkekekeke)
Hmm, apalagi ya enaknya... mungkin anda bisa nambahin sendiri ntar karena pengalaman orang beda-beda hehehe... :-)

Dan kita ngga masuk ke ngga enaknya kalo punya pasangan:
  1. Pertemanan kita terbatas (berlaku bagi yang punya pasangan yang posesif), inget lho kita kuliah itu adalah ajang untuk memperbanyak pertemanan kita karena nanti saat kerja pertemanan itulah yang sangat berguna ato istilahnya networking.
  2. Bisa bikin ngga konsen ato ngga fokus kalo lagi ribut di saat masa-masa krusial kuliah seperti lagi ujian dan skripsi yang ujungnya akan berdampak ke nilai IPS dan IPK kita.
  3. Bagi yang finansialnya pas-pasan dan masih dari orang tua itu bisa berdampak dengan anda bisa menjadi semakin kurus karena pada dasarnya Pria gengsi'an untuk selalu mbayarin pasangannya (untuk ini smoga anda mendapat pasangan yang pengertian bahwa uang selama anda kuliah itu dari orang tua jadi harusnya anda ngga selalu harus mbayarin dia, klo uda jadi istri sih ngga apa-apa, ya kan? :-) Kalo pasangannya ngga ngertian gimana? Wah siap-siap aja anda ganti nama jadi Mr/Mrs Skele... Skeleton karena kurus ngga ada fulus buat makan wkekekeke...)
Dan inget lho, godaan terbesar pacaran selama kuliah bagi yang dari daerah adalah hawa nafsu. Kenapa? Karena anda tinggal di kos dan di kos'an ngga ada yang memperhatikan anda jadi anda bebas mau ngapain aja... banyak kok yang akhirnya dari pacaran jadi langsung married karena kecelakaan dengan alesan sebagai pembuktian cinta, terlena karena lagi engkoh-engkohan dan adek-adekan wkekekeke...

Anda harus inget para Pria bahwa saat pacaran itu karakter kalian diuji, apakah kalian memiliki seorang karakter Pria yang benar, benar disini adalah memiliki persepsi bahwa jika dia memang pasangan anda maka anda akan bener-bener menjaga hubungan kalian agar tidak cemar dari hawa nafsu tersebut (klo masih pacaran kan kalian belum memiliki hak milik atas pasangan anda, anda itu masih masa trial, kalo anda merasa cocok maka anda harus membelinya dengan cara meminta kepada orang tua pasangan anda untuk menyetujui anaknya menikahi anda).

Anda juga harus inget para Wanita bahwa Pria pintar memakai logika mereka untuk memanipulasi emosi anda (kan ada yang bilang Wanita itu lebih mengandalkan emosi daripada logika), dan yakinlah jika Pria tersebut calon suami anda kelak maka dia akan setia kepada anda tanpa embel-embel meminta bukti bahwa anda mencintai dia (bukti cinta bisa dilihat dari perlakuan kita kepada pasangan kita), jadi hati-hati jangan terjebak sama jebakan batman hawa nafsu... kan ntar anda juga yang rugi... :-)


Jadi, pentingkah pacaran sewaktu kuliah? Jawaban saya kembalikan kepada anda.  :-)