Tampilkan postingan dengan label arti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arti. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

Arti Cinta dan Pernikahan Serta Hubungan Antara Cinta dan Pernikahan

Suatu hari Engkong Plato didatangi oleh seorang pemuda yang adalah muridnya. Pemuda ini berkata pada Kong Plato : "Guru, terus terang saya bingung dengan apa yang disebut sebagai CINTA dan PERNIKAHAN. Bisakah guru memberitahu saya seperti apakah cinta dan pernikahan itu

Ilustrasi Engkong Plato

Setelah sempat berpikir sejenak Engkong Plato berkata pada muridnya : "Sebelum saya menjawab saya ingin meminta kamu melakukan sesuatu terlebih dahulu. Pergilah ke padang rumput di sebelah utara. Di musim semi seperti ini biasanya padang itu akan ditumbuhi oleh berbagai macam bunga yang indah. Carilah bunga yang menurutmu paling indah dan petiklah satu untuk kamu bawa kemari. Saat kamu menemukan bunga terindah itu, kamu akan menemukan cinta. Tapi ingat!!! Kamu hanya boleh berjalan maju sekali dan tidak boleh mundur lagi."

Berangkatlah pemuda itu sambil diiringi lagu Ninja Hatori "mendaki gunung lewati lembah... sungai mengalir indah ke samudra... bersama teman betualang..."
 
Dan 2 jam kemudian ia kembali pada Kong Plato dengan tangan kosong.
"Mengapa kamu tidak membawa bunga yang kuminta? Apakah di sana tidak ada bunga yang tumbuh?"
Pemuda itu menjawab dengan wajah suram "Di sana ada banyak bunga yang indah, Guru. Masalahnya... setiap saya ingin memetik sebuah bunga, saya berpikir bahwa jangan-jangan di depan sana akan ada bunga yang jauh lebih indah. Karena saya terus berpikir demikian, akhirnya saya sampai di ujung padang dan tidak ada bunga lagi di sana."

Engkong Plato mengangguk-angguk. "Ya, ITULAH CINTA... sekarang saya mohon kamu lakukan satu lagi permintaan saya. Pergilah ke hutan di sebelah selatan, dan tebanglah sebuah pohon yang menurutmu paling sehat dan kualitas kayunya paling bagus."

 1 jam kemudian pria itu kembali kepada Plato sambil membawa sebatang pohon.
Engkong Plato tersenyum dan bertanya : "Apakah kamu sudah menemukan pohon terbaik?"
Pemuda itu menjawab : "Kali ini saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya berjalan dan melihat sebuah pohon yang saya rasa sangat baik. Karenanya segera saya tebang dan saya tidak lagi melihat-lihat pohon lain. Saya yakin bahwa pilihan saya tepat dan segera membawanya ke sini."

 Engkong Plato mengangguk-angguk (kali ini tersenyum lebar, hampir menyeringai).
Sesaat kemudian, ia berkata pada muridnya : "ITULAH PERNIKAHAN.... CINTA adalah ketika kamu dapat menahan keinginanmu akan kesempurnaan. Waktu tidak bisa berjalan mundur dan hanya cinta yang memungkinkan kamu menerima apa adanya. Lalu, PERNIKAHAN adalah kelanjutan dari CINTA itu sendiri, yaitu proses untuk mendapatkan kesempatan kedua. Ketika kamu terlalu menginginkan kesempurnaan dalam pernikahan, maka justru kamu tidak akan mendapatkan apa-apa."


Yang ditunggu-tunggu setelah pernikahan
(NB : lihat wajah orang ngganteng dan innocent di sebelah kanan foto)

Arti Sebuah Kehidupan

Manusia diberi kehidupan oleh sang pencipta. Kehidupan itu sendiri memiliki siklus yaitu kelahiran, dewasa, kematian. Hampir semua orang di dunia ini masuk di dalam siklus kehidupan tersebut, Namun banyak juga yang tidak masuk dalam siklus tersebut dikarenakan perbuatan nya sendiri atau perbuatan orang lain. Dan ada juga yang tidak masuk dalam siklus tersebut dikarenakan kehendak sang pencipta.

Sebenarnya apa sih maksud sang pencipta menciptakan siklus kehidupan tersebut? Siklus kehidupan diawali dari ketidakberdayaan manusia sewaktu dilahirkan sampai akhirnya kematian menjemput manusia yang dalam ketidakberdayaan juga entah karena penyakit atau pun karena suatu musibah yang semuanya ujung-ujungnya kata orang "takdir" tapi banyak yang berpendapat juga bahwa itu adalah kehendak sang pencipta.

Saya dalam beberapa hari ini melihat ada dua manusia yang sedang berada dalam perjalanan menuju pertengahan tahap dalam kedewasaan namun kematian sudah menjemput. Saya sekilas melihat sungguh kasihan manusia yang sudah dijemput oleh kematian tersebut dalam usia yang belum dewasa atau lagi menuju tahap kedewasaan manusia. Namun setelah saya berpikir dan merenung, saya lebih kasihan lagi terhadap yang ditinggalkan. Kasihan terhadap orang tua nya, kasihan terhadap teman-teman nya, namun saya kasihan lagi terhadap teman nya yang jikalau semasa manusia itu hidup mereka bertengkar... saya kasihan karena mereka tidak bisa menciptakan moment bahagia saat terjadi perpisahan, mereka harus berpisah dalam keadaan saling marah satu sama lain.

Anonim berkata bahwa "Bahagiakanlah orang tua mu selagi mereka masih hidup". Menurut saya anonim tersebut sangat-sangatlah benar. Mengapa? Jawaban yang utama adalah : karena manusia yang masih hidup bisa merasakan dan manusia yang sudah meninggal tidak bisa merasakan. Apakah kalau misal mereka sudah meninggal kita beri persembahan mewah seperti mobil ferrari, kapal pesiar, rumah mewah tapi apalah artinya karena mereka tidak bisa merasakan mengendarai mobil ferrari tersebut, mereka hanya bisa menumpang di mobil jenazah. Mereka tidak bisa berlayar dengan kapal pesiar tersebut, mereka hanya bisa berlayar dengan peti mereka (itu dilakukan di jaman dahulu dengan kepercayaan bahwa mereka akan menuju nirwana). Mereka tidak bisa meninggali rumah mewah tersebut, mereka hanya meninggali tanah seluas 1,5 x 2 meter saja. Manusia yang sudah meninggal mereka sudah berurusan dengan sang pencipta, mereka tidak bisa berurusan lagi dengan yang ada di dunia ini.

Hal ini pun sama bila kita terapkan kepada teman atau kerabat kita karena kita tidak tau apakah teman kita akan mengikuti siklus kehidupan dengan sampai akhir ataukah mereka berhenti di tengah jalan. Sewaktu mereka masih ada, hendaknya kita menjadi "sahabat" bagi mereka di kala suka maupun duka. Mengapa saya berkata kita harus menjadi "sahabat" bukannya kawan atau teman? Itu karena sahabat memiliki makna yang sangat dalam, jauh dalam melebihi makna seorang teman maupun seorang kawan. Dengan menjadi sahabat yang rela menyediakan waktu untuk membantu sahabatnya maupun rela menyediakan waktu dan telinga untuk mendengar keluhan sahabatnya, curahan hati sahabatnya, tangisan sahabatnya. Hal itu cukup untuk menunjukkan kepada sahabat kita bahwa kita adalah benar-benar sahabat mereka. Kita tidak cuma sekedar teman saja yang terkadang lebih ada di saat kita sedang suka dan menghilang saat kita berduka.

Memento Mori : "Ingatlah, bahwa anda harus mati!"
Semua manusia pasti ujung-ujungnya akan mengalami kematian namun kita bisa memilih apakah saat ajal menjemput kita akan pergi dengan wajah gembira dan tersenyum ataukah kita akan pergi dengan wajah sedih. Itu tergantung dari apa yang kita lakukan di dunia ini. Kalau kita menjadi "sahabat" yang baik bagi sahabat kita maka saat ajal menjemput wajah kita akan gembira dan tersenyum karena orang-orang yang kita kasihi ada di sekitar kita dan selalu mendukung kita.
Saya berpendapat bahwa "Baik atau buruknya hidup kita di dunia ini tergantung dari jumlah sahabat dan kawan karib yang melayat dan mengantar kepergian kita ke rumah kita yang baru yang berukuran 1,5 x 2 meter"